oleh

BDR Berkepanjangan Bisa Hilangkan Minat Belajar

MATARAM – Pemerintah perlu mengantisipasi ancaman learning loss dampak penerapan belajar dari rumah (BDR) berkepanjangan. Fenomena ini berarti hilangnya minat belajar bagi peserta didik, yang sebabkan berkurangnya intensitasi interaksi dengan guru.

”Harus diantisipasi dan dicari jalan keluarnya,” tegas Ketua Dewan Pendidikan NTB H Rumindah.

Hal ini terjadi karena beberapa faktor. Pertama, guru yang belum bisa menyesuaikan diri dengan kondisi pembelajaran dalam masa pandemi. ”Tidak bisa daring karena gaptek (gagap teknologi, Red), dia juga tidak bisa luring sehingga kehilangan kesempatan dan waktu untuk mengajar,” terangnya.

Baca Juga  Pengamat Perbankan Desak Pergantian Direktur Utama Bank NTB, Ini Alasannya

Faktor selanjutnya datang dari peserta didik itu sendiri. ”Anak itu punya komitmen atau tidak untuk belajar?” tanya dia.

Terakhir, faktor orang tua. Selama BDR, tak bisa dipungkiri peran orang tua sangat penting menggantikan posisi guru. ”Kalau ketiga unsur ini, sekolah, keluarga, dan anak itu sendiri bisa bersinergi dengan baik, learning loss bisa dicegah,” katanya.

Pemerintah jelas tak tinggal diam. Misalnya dengan menerapkan pembelajaran tatap muka bagi kelas akhir. Namun peserta didik kelas awal juga perlu mendapat perhatian.

Baca Juga  Korupsi, Kejagung Sita Aset Tanah Senilai 30 Miliar di Plampang

Kuncinya, peran aktif dari kepala sekolah. Bagaimana menciptakan situasi agar ketiga unsur tersebut bersinergi.

”Ini harus mendapatkan perhatian. Bukan berarti jadi diabaikan, jadi harus dicari jalan keluarnya. Karena pendidikan ini kan bermutu untuk semua,” ujar Rumindah.

Dosen di Universitas Samawa (UNSA) sekaligus pegiat pendidikan Rusdianto meminta pemerintah memikirkan langkah luar biasa. ”Bisa menggunakan radio pembelajaran atau cara lain, pengganti PTM di sekolah agar learning loss ini bisa dicegah,” ujarnya.

Baca Juga  Polresta Mataram Geber Operasi Yustisi di 19 Titik

Karena penerapan BDR, tak sedikit peserta didik yang belum paham tentang materi pembelajaran. ”Ini menjadi kekhawatiran kami pegiat pendidikan,” katanya.

Karena itu, pemda harus melakukan pemetaan, mana daerah yang sekiranya bisa digelar PTM tatap muka. ”Agar daerah yang tidak terjangkau menjadi terjangkau pembelajaran, mana daerah yang tidak terlayani menjadi terlayani pembelajaran,” jelas dia. (*/cr4)

 

Sumber : lombokpost.jawapos.com

News Feed