oleh

Tingkatkan Literasi dan Tantangan Kebiasaan Membaca, Salaja Pustaka Institute Salurkan Buku Baca Kepada Warga Lombok Korban Gempa

Tingkatkan Literasi dan Tantangan Kebiasaan Membaca, Salaja Pustaka Institute Salurkan Buku Baca Kepada Warga Lombok Korban Gempa

Bima, Siberindo.co – Direktur Salaja Pustaka Institute bersama rekan-rekannya menyalurkan bantuan buku baca kepada korban gempa yaitu warga Desa Jenggala Kabupaten Lombok. Rabu, (04/11/2020). Masyarakat Desa Jenggala sangat prihatin dengan buku-buku anak yang kurang berkualitas, dan stok yang kurang bagi anak-anak korban gempa.

Padahal seperti yang disampaikan oleh pengelola Anakbertanya.com, Hendra Gunawan menyebutkan, pengiriman buku gratis saja tidak cukup. Yang harus diusahakan bersama adalah tersedianya buku-buku berkualitas bagi semua rentang usia.

Direktur Salaja Pustaka Institute Muhammad Syarif Hidayatullah mengungkapkan, bahwa musibah yang menimpa warga Lombok tersebut adalah momentum untuk kita kembali terus saling peduli. Adalah sebuah hidayah yang diberikan walaupun fasilitasnya kurang memadai, tapi tekad dan rasa optimis tetap dipegang teguh oleh warga.

“Kalau anak-anak perkotaan kan akses bacaan mereka melimpah, bisa langsung online. Berbeda dengan kondisi adik-adik kita yang hidup di daerah Pedesaan,” tutur Direktur Salaja Pustaka Institute.

Semangat mereka tentang buku berkualitas, bertemu dengan semangat Pustaka Bergerak, yang memiliki program memasok buku ke berbagai pelosok.

Lanjut Syarif, saat ia duduk di kelas sedang belajar di kampusnya di salah satu kota besar yaitu Makassar. Ia merenung dalam, tentang mengapa tidak jarang ditemukan anak-anak penjual tisu dengan baju kumalnya menenteng setumpuk tisu yang dijajakan di area kampus tempatnya belajar.

“Saat itu saya seperti begitu tenggelam di dalam perenungan saya sendiri, melihat sekelompok anak putus sekolah berbaju kumal. Tak mampu mengakses pendidikan sekolah, itu di awal tahun 2018. Saya kemudian saat itu bertanya jika apakah kita harus menunggu terus respon dari pemangku kebijakan sehingga anak-anak itu bisa belajar seperti kawan seusia mereka yang dapat sekolah?,” cerita Syarif, yang juga seorang penulis buku Secarik Rindu Untuk Tuhan, sehimpun buku puisi yang terbit tahun 2019.

Baca Juga  B-Trust Latih Perangkat Desa Dalam Sukseskan SDGs di KSB

Ia melanjutkan bahwa mesti dibutuhkan aksi mengambil peran, membuat sebuah gerakan. Saat itu dalam benaknya, gerakan literasi salah satunya jalan untuk mengajak anak-anak muda, mahasiswa, dan khususnya anak-anak putus sekolah tadi yang diceritanya untuk bisa sama-sama saling belajar.

Syarif yang lulus dari jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dengan nilai Summa Cumlaude ini, memutuskan merangkul teman dan junior-juniornya untuk membuat sebuah komunitas literasi dan gerakan sosial anak muda

“Saat itu, saya menginisiasi nama Salaja. “Salaja” yang berasal dari sejarah kebudayaan ungkapan Bima bermakna “tempat bernaung”. Tempat bagi semua kalangan untuk belajar, melek baca agar menjadi generasi cerdas dan kritis. Dan “Pustaka” yang bermakna buku, lambang pengetahuan. Salaja Pustaka Institute berdiri di atas tiga pilar prinsip yaitu literacy (literasi), leadership atau kepemimpinan, dan learning center yaitu sebagai pusat belajar bagi siapa saja. Kami sama-sama bentuk pada 5 Maret 2018 di Gowa, Sulawesi Selatan dengan concern dan komitmen yang sama untuk memajukan literasi anak bangsa. Saat awal dibentuk, anggotanya banyak berasal dari berbagai jurusan atau prodi, berbeda asal, dan suku tapi kami satu tujuan”.

“Melalui komunitas Salaja Pustaka Institute ini kami membuka wadah bagi siapa saja terlebih khusus anak muda untuk sama-sama menempa diri, menciptakan perpustakaan swadaya, berdiskusi, dan kegiatan literatif lainnya”.

“Sebenarnya anak-anak Indonesia pada umumnya itu kita temukan banyak menyukai buku-buku terjemahan, sehingga mereka lebih mengenal tentang cerita Suku Cannadian atau Cerita 1001 Malam, tapi mereka sulit bercerita banyak misalnya tentang Kuda Bima atau Tembe Nggoli salah satu sarung tenunan asli khas Bima. Pengetahuan-pengetahuan kebudayaan baca dan tulis kita sendiri itu kurang diciptakan dan hidup di pikiran anak-anak. Olehnya, kita mesti kembali sadar untuk memilih menciptakan saja realita sosial kebudayaan dan peradaban kita sendiri,” ungkap Syarif.

Karenanya ia sangat antusias jika ada lembaga pemerintah atau non pemerintah yang ingin menjalin kerja sama.

Baca Juga  Dukung Program Kapolri, Polres KSB bagi Takjil dan Pemantapan Harkamtibmas

“Untuk buku-buku pengetahuan bagi anak, seperti buku Anak-Anak Bertanya dan Pakar Menjawab, atau buku-buku cerita-cerita moral lain misalnya, sangat bagus dibaca anak-anak. Walau begitu, kami masih membutuhkan buku-buku tersebut, stok buku-buku kami sudah tidak ada lagi”, ungkapnya

“Kami mendapat banyak sekali buku, LKS, dan majalah-majalah yang disumbangkan Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel. Tiga dos berukuran besar, saya dan seorang kawan angkut pakai motor, dos per dos dari kantor Dinas yang jaraknya jauh hingga sampe ke kos yang kami sewa di Samata, Gowa. Jadi kos yang kami sewa, sekalian menjadi sekretariat komunitas dan tiap tiga kali seminggu kami gelar lapak baca secara gratis,” jelasnya.

Tiap pulang kampus, mereka jika sempat mengajak sesama anggota untuk mempresentasikan satu buku, dan kawan lain mengkritisi hasil bacaan masing-masing. Antusiasme anak muda, dan para mahasiswa begitu alot dengan kegiatan-kegiatan diskusi yang digelar.

Pernah suatu waktu anggota Salaja Pustaka Institute (SPI) diajaknya anak putus sekolah membaca yang tinggal di sekitar kos, belum sempat diberi buku bacaan. Anak-anak tersebut lari kencang sambil tertawa meninggalkan Kakak-Kakak sahabat dari komunitas Salaja Pustaka Institute.

Salah satu contoh tantangan dan rintangan yang tidak mudah dalam membudayakan aktivitas membaca.

“Walaupun kami membuka Taman Baca untuk semua kalangan, sayang mayoritas yang datang kebanyakan dari mahasiswa-mahasiswi. Kesadaran pentingnya menjadi literatif dengan membaca masih kurang di kalangan anak-anak dan orang yang relatif tua. Tapi kami terus berusaha membuka taman baca, walaupun tidak tiap hari. Kami selalu upayakan mensosialisasikan dari mulut ke mulut dan poster-poster di situs blog kami agar selalu ada yang tertarik datang ke lapak untuk membaca. Akhirnya, hingga akhir tahun 2019 saya selesai kuliah. Maka saat itu juga masa vakum, banyak teman-teman saya yang kembali ke kampung halaman begitu juga dengan saya. Kevakuman itu salah satunya sebab karena tiga dos besar buku bacaan yang dengan susah-susah kami kumpulkan dan kami simpan kunci rapi di salah satu gudang kos, semuanya hilang, tinggal sekitar 4 buku yang tersisa dan beberapa bagian halaman yang sudah semacam dimakan tikus. Setelah saya telusuri dari kawan-kawan kos sekitar, Bapak Kos sayalah yang membuang buku-buku itu,” cerita anak muda yang pernah mengajar menjadi Asisten Dosen selama kuliahnya ini.

Baca Juga  Ruang Kasir Kantor Pos Kopang Kebakaran, Puluhan Juta Hangus

Saat ditanya mengapa harus pulang ke kampung halaman? Ia menjelaskan jika kampung merupakan tempat akhir tiap orang untuk kembali. Dan menjadi titik paling rawan, tidak hadirnya budaya baca, dan kurangnya infrastruktur yang mendukung kebiasaan baca, serta akses bacaan yang sulit didapat.

“Kampung saya kira adalah bagian dari dunia yang paling krisis, terpinggirkan. Akses bacaan di kampung seringkali sulit, infrastruktur yang tidak memadai atau tidak ada sama sekali, apalagi toko-toko buku lengkap seperti yang ada di kota besar?”.

Salaja Pustaka Institute sebagai gerakan literasi anak muda akhirnya dihidupkan kembali, dibawa ke Bima. Saat gempa melanda Lombok, Salaja Pustaka Institute (SPI) membuka donasi. Terkumpul dana dari berbagai donatur berupa bantuan uang tunai dan logistik; pakaian, makanan, mi instan, sembako dan lain-lain. Semua diserahkan kepada masyarakat Lombok yang terkena dampak gempa.

“Akhir-akhir ini, kami dan beberapa lembaga bekerjasama membuat program saling peduli, membuka donasi untuk membantu masyarakat sektor informal seperti para janda, tukang parkir, pedagang kaki lima yang ada di Bima, daerah Kabupaten dan Kota. Di saat sedang banyak-banyaknya yang terinfeksi Covid-19 untuk kami salurkan sejumlah paket uang tunai dan masker yang kami dan beberapa komunitas bikin sendiri. Kami bekerjasama dengan salah satu sekolah agar dipinjam mesin jahitnya untuk membuat masker. Dan ke depan kami akan terus membuat kegiatan produktif lain sambil kami selalu membuka diri untuk menerima siapa saja untuk bergabung dan atau bekerjasama dengan lembaga kami. Jadi, siapa saja silahkan tanpa sungkan menghubungi IG kami @salajapustaka,” tutupnya.(SI/IM)

News Feed