oleh

Pedagang Emas Sekarbela Tak Dapat Bantuan

MATARAM – Sejumlah pedagang emas di Sekarbela mengeluh belum menerima bantuan apa pun dari pemerintah. Salah satunya, penyaluran Bantuan Langsung Tunai Rp 2,4 juta guna meredam dampak Covid-19 di kalangan UMKM.

Nurul, pemilik Toko Emas Rindu Alam Sekarbela berharap penyaluran bantuan bisa merata. Sebab tidak ada beda antara pihaknya dengan pedagang lain yang sudah menerima bantuan. ”Kita juga pengusaha kecil menengah yang membutuhkan bantuan karena kondisi ekonomi kita yang juga melemah,” katanya kepada Lombok Post, (16/2).

Dikatakan, sejauh ini sosialisasi dan informasi terkait bantuan pemerintah sangat minim. Pihaknya dan pengusaha emas lainnya, umumnya belum pernah menerima atau menggunakan bantuan modal baik dalam bentuk kredit usaha rakyat (KUR) atau kredit lain dari perbankan. Itu berarti, secara kriteria mereka layak mendapatkan subsidi bantuan.

”Beberapa juga sudah ajukan tapi masih tidak dapat, tidak tahu kenapa, padahal sudah kita pelajari syarat-syaratnya,” imbuhnya.

Baca Juga  Jasa Raharja Mengadakan Virtual Meeting Mantapkan Kerja Sama Santunan Kecelakaan

Ia lantas menyoroti kabar banyak yang sudah dapat bantuan malah mendapatkannya lagi. Tapi yang sama sekali belum dapat, sampai sekarang tetap belum mendapatkan bantuan tersebut. Padahal sebagai sesama pelaku UMKM yang terdampak selama pandemi, harusnya bisa terdata. ”Justru yang udah pernah dapat bantuan malah dapat lagi Rp 300 ribu, Rp 500 ribu. Kita bingung ini bantuan apa lagi,” katanya penuh tanya.

Kondisi pedagang emas saat ini pun tak jauh dengan pengusaha-pengusaha lainnya. Tak ada pemasukan lantaran minimnya wisatawan. Tak jarang dirasakan dalam sehari dirinya membuka toko tanpa satu pun pembeli. Hal ini sudah berlangsung sejak Maret tahun lalu.

Baca Juga  Patroli KRYD Gabungan Fungsi Opsnal Polres Sumbawa Patroli Cipkon

Harga emas pun saat ini cenderung terus menurun menginjak Rp 830 ribu per gram dari sebelumnya mencapai Rp 900 ribu.

”Gempa 2018 lalu saja kita masih tetap ada wisatawan yang beli. Sekarang tak ada,” keluhnya.

Hal ini membuat para pedagang belum berani mengambil stok baru dari pihak perajin. Itu membuat roda perekonomian di kawasan ini berputar amat lambat. ”Stok yang dipajang semua ini masih stok lama. Nanti kalau sudah laku baru berani ambil yang baru,” imbuhnya.

Baca Juga  Ini Kunci Turunkan Angka Kemiskinan

Hal senada diungkapkan Aan Rohiyan, pedagang lainnya di Sekarbela. Pihaknya justru kebanjiran permintaan masyarakat yang memilih untuk menjual emas miliknya. Didominasi para mahasiswa atau karyawan muda. Pihaknya pun hanya bisa menerima, mengikuti prediksi perkembangan harga emas di pasaran nantinya. ”Yang penting taHu kira-kira kapan naik turunnya,” katanya.

Optimisme peningkatan penjualan diharapkannya muncul saat perayaan Ramadan mendatang. Diproyeksikan, harga emas kembali naik, seperti tahun-tahun sebelumnya. pada momen ini ia biasa mengantongi keuntungan Rp 2-3 juta per bulan. ”Mungkin nanti emas yang bakal banyak laku. Karena mutiara biasa diborong kalangan wisatawan saja,” katanya. (*/cr4)

 

Sumber : lombokpost.jawapos.com

News Feed