oleh

Dampak Pandemi Biro Perjalanan Wisata Kini Masih Wait And See

MATARAM – Sekitar 90 persen perusahaan perjalanan wisata sudah berhenti beroperasi karena terdampak pandemi. Itu diungkapkan Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel (Asita) NTB Dewantoro Umbu Joka.

Dari 130 anggotanya yang terdaftar, hanya 10 persen yang masih bertahan. Ia menegaskan perusahaan ini hanya mati suri, bukan gulung tikar. Itu berarti, masih ada harapan hidup kembali setelah pandemi berakhir. ”Masih wait and see,” ujarnya, Senin (15/3/2021).

Mereka yang tetap bertahan, hanya mengandalkan permintaan tiket dari para pemilik kitas (kartu izin tinggal terbatas). Mereka adalah orang asing yang masuk dengan visa terbatas. Biasanya, ini karena mereka memiliki anggota keluarga asal NTB yang sesekali harus dikunjungi. Selanjutnya yakni mereka yang melakukan studi banding. Jam operasionalnya berubah-ubah sesuai kebutuhan. Ada yang aktif dua sampai tiga kali seminggu, ada juga yang menerapkan momen selang-seling. Pihaknya pun tak bisa memastikan sampai kapan mereka mampu bertahan.

Baca Juga  Karateka NTB Zigi Harus Jadi Juara di Paris jika Ingin Lolos Olimpiade

”Pemerintah pun belum bisa kasih kepastian. Bergantung sikon dan regulasi keringanan oleh mereka,” jelasnya.

Menurutnya, wisata virtual yang dilakukan secara tidak langsung melalui ponsel, televisi, komputer dan jaringan Internet tak banyak membantu. Upaya ini hanya berfungsi menambah informasi destinasi saja. Namun tak memiliki manfaat ekonomi yang bisa dinikmati seluruh bisnis turunannya. Seperti travel, kuliner, UMKM, hingga perhotelan. Jika tak ada perbaikan kondisi, dipastikan 2021 belum bisa menjadi momen kebangkitan.

Baca Juga  Guna Serap Saran Semua Pihak, Luncurkan BPJS Kesehatan Mendengar

”Kan kita butuhnya mereka langsung datang. Kalau wisata lewat youtube saja ya tak bisa menopang,” imbuh pria yang menjabat ketua Asita dua periode ini.

Terpisah, Ketua Indonesian Travel Agent Association (Astindo) NTB Awanadhi Aswinabawa mengatakan, anggotanya terdiri dari 60 perusahaan. Kini yang tersisa hanya ada 4-5 perusahaan saja. Mereka bertahan dengan tetap terus menawarkan tiket perjalanan, dan menjaga komunikasi dengan pihak mitra.

Baca Juga  Satpol-PP Lotim Razia Rumah Makan di Siang Hari

”Padahal, secara pembukuan sudah tak layak beroperasi karena merugi terus.

Meski demikian, lanjutnya, 66 perusahaan lainnya belum secara resmi menyatakan bangkrut. ”Mereka hanya sudah tak lagi beroperasi saja, alias tutup sementara,” ujarnya yakin.

Dikatakan, saat ini semua industri pariwisata tengah menunggu bantuan pemerintah. Berupa dana hibah maupun pinjaman super lunak untuk dapat memulai kembali bisnis. Dengannya mereka dapat mengantisipasi dan tetap dapat bertahan dalam ketidakpastian pandemi.

”Sampai saat ini tak ada bantuan khusus untuk perusahaan biro perjalanan wisata. Padahal kami sangat butuh untuk bisa tetap jalan,” imbuhnya. (*/cr4)

 

Sumber : lombokpost.jawapos.com

News Feed