DOMPU – Kabupaten Dompu memiliki tambang budaya yang tak ternilai, sehingga disebut sebagai salah satu tonggak kebudayaan nasional. Bahkan oleh beberapa ahli menekankan bahwa kebudayaan masyarakat Dompu sudah jauh lebih tua yakni, sejak ratusan bahkan ribuan tahun silam. Terbukti bahwa pada sekitar 500 tahun sebelum masehi (SM), nenek moyang masyarakat Dompu sudah mampu menciptakan karya – karya besar bernilai budaya yang patut untuk ditiru oleh cucu – cucunya saat ini.
Arkeolog Haris Sukendar yang melakukan penelitian di Dompu mengatakan, karya besar leluhur masyarakat Dompu di zaman itu adalah, Tahta Batu yang dikenal dengan kursi batu. Tahta batu tersebut kini masih kokoh berdiri di lereng bukit di Desa Hu’U Kecamatan Hu’U. Selain itu, ditemukan adanya Gong batu yang dijadikan penutup kuburan di areal pekuburan kuno sekitar lebih dari satu hektar are yang terhampar di so La Nggedu Desa Hu’U Kecamatan Hu’U.
Menurut para peneliti arkeolog ini, Budaya leluhur masyarakat Dompu sebenarnya sudah banyak dikenal di tanah air bahkan dikenal secara luas di dunia. Hal ini ditandai dengan adanya sejumlah temuan arkeolog dari Jakarta dan Bali, Haris Sukendar bersama Ayu Kusumawati, yang pernah melakukan beberapa penelitian arkeologi di kabupaten Dompu. Mereka menyimpulkan bahwa, budaya nenek moyang masyarakat Dompu merupakan salah satu kreasi besar kebudayaan bangsa.
Dari hasil penelitian para ahli arkeologi tersebut misalnya, Situs Nangasia di Kecamatan Hu’U. mereka menyimpulkan bahwa, leluhur masyarakat Dompu yang hidup di sana pada zaman pra sejarah itu, telah mampu menciptakan teknologi transportasi dan menguasai pengetahuan pelayaran. Demikian pula halnya dengan temuan situs Dorobata dan situs Warukali
Tentang kekayaan budaya leluhur masyarakat Dompu, para arkeolog ini mengharapkan adanya penyebaran informasi yang merata ke seluruh masyarakat, baik melalui media massa berupa Koran maupun televise. Yang lebih hebat lagi adalah, penyebaran informasi budaya ini diterapkan melalui pendidikan kepada generasi SD, SMP dan SMA.
“Ini merupakan sebuah upaya untuk melestarikan kekayaan budaya, sehingga generasi – generasi anak bangsa, mengenal kebesaran budaya nenek moyang mereka dan bangga lahir dan besar serta berkarya demi masyarakat Bumi Nggahi Rawi Pahu (Dompu),” papar para peneliti arkeologi ini. (tofo).










