oleh

“Meski Hidup Miskin, Anak Marbot Asal Sumbawa Ini Raih Gelar Doktor Linguistik di UNUD”

“Meski Hidup Miskin, Anak Marbot Asal Sumbawa Ini Raih Gelar Doktor Linguistik di UNUD”

SUMBAWA,Siberindo— Tanggal 17 Juli 2020 merupakan hari yang sangat bersejarah bagi sosok mantan surveyor Gunung Tambora era tahun 1994-1998, Dr. Umar M. Pd namanya. Karena hari itu adalah hari kelulusannya sebagai seorang Doktor Ilmu Linguistik. Program Doktor tersebut ditempuhnya sejak tahun 2017 di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (UNUD) Bali. Menempuh program doktor bagi sosok surveyor ini tidaklah berjalan mudah alias banyak rintangan. Terutama yang berkaitan dengan biaya.

Dia berangkat ke Provinsi Bali dengan menggunakan sepeda motor, begitupun ketika pulang melakukan penelitian di Sumbawa. Vario 125 dan ransel hitam merupakan teman setia mengarungi lautan Pulau Lombok dan Sumbawa. Baik di masa musim penghujan maupun musim kemarau. POM Bensin dan Mushalla merupakan hotel langgannya untuk melepaskan lelah di tengah perjalanan yang begitu jauh.

Sukses menempuh pendidikan tinggi melalui jalan terjal, setidaknya sudah dibuktikan Umar. Roda hidup selalu berputar, asal selalu dibarengi usaha keras dan doa, hasilnya pun memuaskan dan membanggakan. Itulah prinsip hidup yang selalu ditanamkan kepada kepribadian seorang Umar. Sehingga prestasinya terbukti gemilang karena ia mampu lulus dengan IPK 3,82 atau predikat dengan CUMLAUDE. Kini namanya ditulis lengkap dengan gelar akademik Dr. Umar S.Pd M.Pd.

Umar sendiri waktu kecil, memang terkenal sebagai sosok anak yang sangat rajin belajar dan merupakan sosok siswa yang langganan juara sejak duduk dibangku sekolah dasar (SDN Bajo), sekolah menengah (SMPN Donggo) dan SMA (SMAN 1 Bima). Beasiswa merupakan langganannya, sejak SMP sampai Program Doktornya.

Baca Juga  Miliki Harta Rp.50,568 Miliar, Chika Kandidat Terkaya

Masa Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), dosen STKIP Paracendekia NW Sumbawa ini terbiasa belajar di dalam perahu dengan menggunakan lampu sumbu. Karena kehidupan orang tuanyalah yang membuatnya terbiasa demikian. Dimana orang tuanya merupakan seorang pelaut atau nelayan.

Zakariah, salah seorang Kepala Surveyor pernah bilang kepadanya ketika ia masih bekerja sebagai surveyor di Gunung Tanbora.  Ngapain bawa buku kamus banyak-banyak di gunung?. Umar pun berseloroh bahwa buku adalah teman yang cocok menemani kedinginan hawa Gunung Tambora.

Idil Safitri, sepupu pertama dari Dr. Umar mengaku bangga atas prestasi yang diraih oleh Guide of the Tambora Tour and Travel Sumbawa tersebut. Apalagi yang diketahuinya, apa yang diraih sepupunya tersebut melalui proses yang tak mudah yakni dengan kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas.

“Ikut bangga, karena tak mudah meraih itu semua. Aba Emo sapaan untuk adik-adiknya merupakan sosok sederhana tapi ilmu tinggi,” ujar Cicit dari Pua (Puang) Zuma, yang berdarah Bima-Bugis ini.

Sebelum menjadi dosen STKIP Paracendekia NW Sumbawa, Dr Umar pernah bekerja di sebuah perusahaan di Calabai, Kabupaten Dompu selama 4,5 tahun. Kemudian pindah ke Sumbawa pada tahun 1998 sebagai Guide di Tambora Tour and Travel Sumbawa dan di Kencana Beach Cottage Sumbawa hingga 2017. Bahasa Asing merupakan pembelajaran kesukaannya yang kedua setelah pembelajaran matematika. Pria kelahiran 22 Juli 1973 ini juga tak seperti anak-anak pada umumnya dalam mempelajari bahasa. Buktinya, ketika belajar bahasa asing, ia belajar secara otodidak.
Selain bahasa Inggris, ia juga menguasai beberapa bahasa asing. Seperti bahasa Jepang, Jerman dan juga dialek Bahasa Belanda.

Baca Juga  Senam Zumba Viral, Empat Orang Diklarifikasi Satu ASN

Karena kondisi ekonomi keluarga membuat Umar sebelumnya tak langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi setelah tamat SMAN 1 Kota Bima tahun 1993 lalu. Sehingga ia sempat tak sekolah dan memilih kerja beberapa tahun lamanya. Setelah memiliki modal, ia kemudian mendaftar kuliah di STKIP Hamzanwadi pada tahun 2006 atau 13 tahun pasca ia lulus dari SMA. Selama empat tahun kuliah, Umar kemudian menyelsaikan S1-nya pada tahun 2010.

Mendapat spirit di lingkungan akademik, Umar pun melanjutkan pendidikan S2-nya di Universitas Ganesha di Bali. Dalam masa study-nya tersebut, ia rutin bolak balik ke Sumbawa Besar menggunakan sepeda motor.  Maklum, itu dilakukannya karena ia kuliah sambil bekerja. Setelah sekitar tiga tahun, Umar berhasil menyelsaikan program Magister pada tahun 2013. Tak berselang lama, Umar berhasil lolos menjadi peserta program beasiswa Doktoral  Linguistik di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Bali. Hingga akhirnya pada 17 Juli lalu resmi menyandang gelar tersebut.

Baca Juga  Politisi Partai Demokrat, Kecam PT MacMahon Aliansi PT AMNT Soal Karyawan Tak Makan

“Dia awalnya masuk kuliah saat usia 34 tahun, satu tahun sebelum batas umur pendaftaran PNS,” ujar, Ahmad, sepupu dari Dr. Umar.

Sejumlah kerabatnya di Dusun Bajo Selatan Desa Bajo, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima mengaku kagum dengan perjuangan Umar hingga mampu menyelsaikan program doktornya di tengah himpitan ekonomi yang bisa dibilang pas-pasan. Sehingga kerabatnya menilai apa yang diraih Umar merupakan hasil kerja kerasnya mulai dari nol.

Orang tuanya, Ismail Ibrahim yang kesehariannya merupakan seorang Marbot Masjid An-Nur Dusun Bajo Selatan, turut bahagia atas prestasi yang diraih anaknya. Nyaris tanpa absen Ismail menunaikan salat di masjid. Bahkan satu jam sebelum jamaah masjid datang, dia sudah hadir di masjid. Termasuk saat waktu subuh.

“Alhamdulillah sangat bahagia, karena kebahagiaan orang tua itu manakala melihat anak-anaknya sukses,” ujar pria yang hampir setiap lima waktu salat bertugas sebagai muazin Masjid An Nur Bajo ini.

Tak banyak yang bisa dilakukan Ismail untuk menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Apalagi selama ini, dia hanya berprofesi sebagai nelayan untuk menafkahi hidup keluarganya, sebelum istrinya meninggal.

Namun demikian, dia tetap mengirim doa terbaik untuk anak-anaknya. Ia bersyukur beberapa anaknya sukses dengan pekerjaan masing-masing, termasuk Umar yang kini sukses meraih gelar doktor.(SI/Israt).

Komentar

News Feed