oleh

Sekda Lotim : Berhasil Kurangi Angka Penyebaran Covid-19, Tapi Jangan Jumawa

LOMBOK TIMUR – Jumlah kasus terkonfirmasi positif di Kabupaten Lombok Timur kian hari kian berkurang. Tentunya ini cukup menggembirakan bagi Tim Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19.

Kendati demikian, tidak sepatutnya semua pihak untuk jumawa. Tetapi, mawas diri kunci dari keberhasilan penanganan virus tersebut.

Sekda Lombok Timur, Drs. HM. Juaini Taofik, MAp mengingatkan semua pihak untuk tidak jumawa hingga pandemi ini berakhir.
Dari data yang ada, jumlah yang terpapar positif mengalami penurunan. Bahkan kini hanya tersisa 15 desa warganya yang masih menjalani isolasi dari 239 desa di Lotim.

Baca Juga  Kampung Sehat 2 Inisiasi Kapolda NTB Irjen Pol Moh. Iqbal di Puji Mentri Dalam Negri (Mendagri)

Dalam beberapa waktu sebelumnya desa yang masih dinyatakan berstatus zona merah tersisa 21. Dan kini berangsur-angsur menurun. Jika diporsentasekan tersisa dibawah 10 persen.

“Bagi Pemda hal yang cukup menggembirakan. Dan semoga pandemi ini segera berlalu. Yang berbahaya pada virus ini adalah penularannya,” ungkap Juaini Taofik kepada media ini.

Dijelaskan Juaini Taofik, selama ini kemampuan hanya ada pada 3 T (Test, Tracking dan Treatment). Namun itu tidak banyak bermakna dibanding 3 M (Mencuci tangan, Menjaga jarak dan menggunakan masker).

Baca Juga  Ratusan Terduga Preman di Lotim Digulung Polisi

“Tantangan kita saat ini bagaimana kita bisa awas dengan menghindari adanya kerumunan. Masker sudah membaik tetapi kita harus menjaga kerumunan. Kuncinya kata kesabaran,” jelasnya.

Selain kesabaran tambahnya, hal terpenting tetap menjaga iman, aman dan imun sebagai motto. Hal itu telah dijabarkan dalam surat Al Baqarah ayat 153.

“Paling utama untuk keluar dari masalah harus sholat,” pintanya.

Baca Juga  Talent Scouting, Program untuk Generasi Milenial Mencari Pekerjaan Milenial, menjadi Sorotan Gema MSL sebagai Program Unggulan

Ia juga meminta kepada semua pihak untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan. Jika ada kegiatan sosial budaya seperti pernikahan dan sebagainya hindari dulu arak-arakan dan mengurangi kapasitas ruang. Jika sebelumnya daya tampung 100 orang menjadi 50 orang.

Pastinya, keberhasilan mengurangi angka penyebaran ini tak luput dari adanya keterlibatan stakeholder yang telah bekerja keras. (wr-dy)

News Feed