GIRI MENANG – Beberapa fakta baru terkait longsor Senggigi kini menjadi bahan uji pakar teknik untuk melakukan pengecekan. Salah satunya untuk pengecekan Geological Strength Index (GSI) kontur tanah.
Uji GSI ini untuk mengetahui kekuatan massa batuan berdasarkan kriteria runtuh. “Pada saat mengambil sampel di lima titik untuk uji Geological Strength Index tanah tersebut, ketiga lokasi longsor nilainya 33 sampai 44,” kata Pakar Geologi Aji Syailendra pada Lombok Post, Rabu (17/3/2021).
Dia menjelaskan, kategori GSI terbagi menjadi dua. Kategori buruk masuk range angkanya 0-60. Sedangkan kategori bagus range angkanya 60-100.
“Kalau untuk mitigasi bencana, kita mengambil nilai GSI yang 33 untuk antisipasi. Kategori angka 33 sampai 44 ini termasuk buruk,” jelasnya.
Aji Syailendra menegaskan, di tiga lokasi longsor proyek penataan kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat, nilai GSI-nya buruk. Baik di titik pertama dekat Kafe Alberto, titik kedua di Senggigi View, dan titik ketiga di Pasific Dream Point Senggigi.
Ia menjelaskan, dari tiga lokasi longsor yang jatuh, yang curam, dan yang terbebani, perlu diamati satu per satu. Yang curam tidak terbebani yang jatuh, ini menandakan pekerjaan sipil sebelumnya sudah baik. “Pengerjaan baru ini bagaimana?” tanya dia.
Menurutnya, nilai faktor keamanan bila melihat nilai Geological Strength Index jadi rendah. Jadi perlu peningkatan keamanan. “Salah satunya dengan penguatan tanah,” terangnya.
Sementara, fakta di lapangan, penguatan tanah hanya satu yang dibuat tembok penahan. “Yang kami lihat di tiga titik penguatan tanahnya sama. Mau di tebing yang terbebani maupun tidak terbebani. Cuma pakai dinding penahan saja, tidak ada penambahan,” ungkapnya.
Kini faktor keamanan menjadi hal penting yang harus diingatkan. Banyak cara untuk mendeskripsikan kualitas batuan. Apalagi ini lereng, jadi harus mempertimbangkan faktor keamanan. Kalau masa batuan buruk, berarti faktor keamanannya rendah. “Kalau massa batuan buruk, kita harus angkat faktor keamanannya sehingga jadi stabil dan aman,” terangnya.
Faktor kondisi permukaan perlu dengan melihat kekasaran, kekerasan, dan ketebalannya. Apakah nyerap air atau tidak dan isinya bagaimana. Faktor-faktor itulah yang digunakan untuk mendefinisikan massa batuan tadi, sehingga tahu kualitasnya.
“Ingat, cuaca itu setiap tahunnya semakin buruk. Ini juga sangat mempengaruhi,” imbuhnya.
Terpisah, Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Mataram Islamy Rusyda mengatakan, dengan sudut kemiringan yang besar seharusnya ada perlakuan khusus. Seharusnya sebelum dibangun, harus di cek dahulu. Apakah perlu dilakukan counter weight (timbunan pada kaki lereng) atau tidak.
Upaya ini untuk mengurangi gaya atau momen penyebab longsor di lokasi tersebut. Semakin besar gaya penggerak atau momen penyebab longsor, akan mengganggu kestabilan lereng. Dengan ada beban tersebut, harusnya dihitung itu semua.
“Tapi saya yakin mereka pasti sudah menghitungnya. Kadang-kadang bencana longsor memang susah diprediksi kapan terjadinya,” kata dia. (*/cr4)
Sumber : lombokpost.jawapos.com







